Setelah mendengar berita putra keduanya. Dia lanjut bertanya.
"....Derrick, bagaimana dengan dia...?"
"....Dia juga tidak pulang kemarin."
Kepala pelayan ragu-ragu untuk mengungkapkan kebenaran karena suara Duke lebih berat dari sebelumnya.
"Laporannya mengatakan dia berada di sebuah desa dekat ibu kota."
"Mengapa dia disana?"
"Saya menerima laporan bahwa dia menlihat Penelope disana..."
"Dasar bajingan gila!"
Brakk-!
Begitu kata-kata kepala pelayan selesai, sang Duke mengubah wajahnya dan dengan kasar memukul meja.
"Ada banyak pekerjaan disini, tapi dia malah terus terperangkap dengan kejadian yang terjadi disana!"
Dia lebih suka memilih Reynold yang minum-minum atau bermain-main.
Adipati Muda keluarga Eckart, yang tidak pernah kehilangan ketenangannya dan akalnya, telah berubah menjadi aneh di beberapa titik.
Mata yang melotot itu menjadi semakin aneh, dan sejak hilangnya Penelope, dia benar-benar berubah dan menjadi gila.
Dia (Duke) tidak bisa mengendalikan dia (Derrick) yang pergi keluar untuk menemukannya, dan malah dia (Derrick) membuang semua pekerjaan yang harusnya dia lakukan.
“Huftttt...”
Duke menghela napas panjang dengan kepala yang berdenyut-denyut saat mendengar berita tentang Derrick. Setelah Penelope meninggalkan mansion, rumahnya berantakan.
"....Apa yang dilakukan anak itu?"
Dalam beberapa menit, wajah Duke menjadi 10 tahun lebih tua ketika dia menanyakan hal lainnya.
"Dia masih dalam keadaan tenang, tapi menurutku dia sangat tertekan karena pelayan yang baru saja kau tugaskan, tidak merawatnya dengan baik."
Berada di posisi paling ambigu di mansion, kepala pelayan samar-samar menghilangkan topik pembicaraan ini
“Hufttt....”
Duke menghela nafas panjang lagi. Yvonne mengalami memar di perutnya yang berwarna hitam kebiruan dan itu sakit, jadi selama beberapa hari dia tidak makan dengan benar.
Kepala pelayan tidak mengatakan apa pun, karena dia tidak menyaksikan penyerangan itu secara langsung
Namun saksi lain yang ada di sana, yaitu Emily, mengaku bahwa dia pelakunya. Tetapi dia menghilang dari penjara keesokan harinya. Kasus tersebut tidak bisa diselesaikan karena semua tersangka telah menghilang. Yang tersisa hanyalah rumor yang mengatakan "putri palsu" yang melarikan diri dari rumah setelah memukuli putri yang asli.
Selain itu, dia sembari mengingat sikap Penelope belakangan ini, jadi apa yang diucapakan kepala pelayan agak terabaikan.
Kemudian kepala pelayan menginformasikan lagi untuk mengingatkan Duke pada wajah menangis Yvonne, yang mengatakan bahwa dia merindukan Duke, dan itu membebani dadanya dengan berat.
"Tapi dia merasa jauh lebih baik, dan dia bilang dia sarapan enak hari ini."
"Saya harus pergi."
Duke bangkit dari kursinya dengan helaan dan suara erangan. Kepala pelayan itu memandang dengan heran.
"Apakah Anda serius?"
"Saya tidak bisa meminta anak yang sakit untuk datang."
Duke tidak pernah mengunjungi kamar itu secara langsung sejak Yvonne kembali ke mansion. Selain itu, semua perhatian diberikan pada rangkaian insiden Penelope baru-baru ini, dan dia benar-benar diabaikan.
Wajah Yvonne, yang telah lama dia tangisi, sekarang membebani dadanya dengan berat.
Segera setelah instruksi kepala pelayan, sang Duke mencapai kamar Yvonne, yang telah dia dirikan di lantai pertama mansion. Yang merupakan kamar untuk tamu.
Ketika dia menyadarinya, dia mendengar suara lembutnya.
-Aku... Bolehkah aku melihat kamarku? Saya masih bertanya-tanya apakah itu masih sama...
Duke segera menolak permintaan Yvonne untuk pergi ke lantai tiga yang bertanya-tanya apakah itu masih sama. Itu karena dia khawatir dia akan bertemu Penelope di lantai dua.
Sudah lama sekali sejak Yvonne datang ke mansion tersebut, namun ketika dia memastikan Yvonne masih tinggal di kamar tamu, dia merasa berat lagi.
Tok, tok-
"Siapa itu?"
"Ini aku."
"Oh, ayah... Tidak, Duke?"
Setelah dia mengetuk, dia mendengar suara kaget dari dalam.
"Bolehkah saya masuk?"
"Ya, ya! Um, tunggu sebentar!"
Cklekkk-
Pintu pun terbuka.
“Anda telah datang Duke! Tolong.... masuklah. "
Yvonne yang merasa malu bergegas membawa Duke ke kamar. Kepala pelayan itu mengikuti di belakang. Duke yang duduk di meja di depan jendela bertanya padanya.
"......Apakah kamu merasa lebih baik?"
"Ya, tentu saja. Saya baik-baik saja."
Yvonne menjawab dengan senyum yang cerah. Dia telah mendapatkan laporan bahwa dia sakit sampai batas tertentu sehingga dia makan sendiri di kamarnya selama berhari-hari, tetapi sekarang wajahnya tampak sehat tanpa ada bayangan bahwa dia pernah sakit.
"Itu hal yang baik."
Duke merasa lega dari kecemasannya. Lalu ada keheningan yang canggung di antara keduanya. Untungnya, Yvonne, yang sempat ragu-ragu, memberanikan diri dan memimpin pembicaraan.
"Yah... apakah Anda... ingin minuman?"
"Ya, mari kita lakukan. Kepala pelayan."
Pada panggilan rendah duke, kepala pelayan yang berdiri di situ segera meninggalkan ruangan. Segera teh panas dan makanan penutup disajikan di atas meja.
"Silakan panggil saya jika Anda membutuhkan lebih banyak."
Kepala pelayan, yang menyiapkan minuman, dengan bijaksana menghindari percakapan antara ayah dan putrinya. Begitu kepala pelayan keluar, Yvonne menatap Duke dengan matanya.
"…Aku tidak mengharapkanmu ada disini. Tapi aku sangat senang kamu datang, Duke."
Duke merasa bersalah atas reaksinya. Dia tahu dia sakit, tapi dia tidak menemuinya. Dia, setelah upacara Penelope, secara aneh menjauhi Yvonne. Itu juga karena rasa bersalahnya terhadap Penelope.
'Aku ayah yang jahat.'
Dia masih tidak tahu bagaimana memperlakukan putri kecilnya. Selain itu, Penelope dan Yvonne sangat berbeda, karena Penelope hanya mengatakan apa yang dia butuhkan setiap saat dan pergi.
"Bolehkah saya menuangkan teh untuk Anda?"
Yvonne bahkan tidak mendengar jawabannya dan langsung menuangkan teh ke dalam cangkir teh. Biasanya ini adalah pekerjaan pembantu, tapi dia tidak punya pembantu sekarang.
"....Baik."
Sang Duke terbatuk dengan canggung karena suara lembut Yvonne, dan ragu-ragu untuk membuka bibirnya.
"....Apakah ada ketidaknyamanan selama Anda tinggal di sini?"
"Ketidaknyamanan? Tidak ada sama sekali. Oh, malah saya sering khawatir saya telah diperlakukan secara berlebihan."
"Aku tidak percaya itu terlalu berlebihan. Jangan katakan itu. Itu sesuatu yang pantas kamu nikmati."
Yvonne menatap Duke dengan ekspresi terharu, menjawab dengan air mata berlinang.
"Terima kasih telah mengatakan itu."
"...Yvonne."
"Ya?"
Duke ragu-ragu sejenak, lalu berbicara dengan hati-hati.
"Jangan terlalu menyalahkan Penelope."
"Ah...."
"Ini semua salahku kalau dia seperti itu. Aku tidak akan bertanya secara detail tentang apa yang terjadi di antara kalian berdua. Tetap saja, dia bukan anak yang pemarah, jadi tolong mengerti sedikit."
Meskipun dia tahu bahwa Penelope tidak akan melakukannya tanpa alasan, Yvonne adalah korban penyerangan tersebut. Duke tidak bisa menghadapi Yvonne dan menunduk sambil melihat ke cangkir teh. Karena itu, dia tidak bisa melihat wajah aneh yang dibuat Yvonne.
".....Duke. Saya baik-baik saja."
Segera setelah itu, Yvonnne menjawab dengan suara seperti ingin menangis.
"Aku seharusnya lebih berhati-hati agar tidak mengganggu Penelope... maafkan aku."
(Sella: Arghhhh, ratu drama mulai beraksi lagi 🙄)
"Tidak, itu bukan sesuatu yang harus kamu meminta maaf.”
"Tidak, itu semua salahku. Apa kau... sudah menemukan Penelope?"
Air mata dengan cepat memenuhi matanya dalam sekejap.
"Aku sangat khawatir sesuatu akan terjadi. Kuharap dia akan segera kembali...."
"Jangan terlalu khawatir. Dia pandai menjaga dirinya sendiri."
Kata-kata itu membuat mata biru Yvonne menjadi dingin. Kali ini Duke melihatnya. Matanya berkaca-kaca, dan wajahnya tanpa ekspresi seperti boneka.
Pada saat itu, Duke merasa merinding di bagian belakang lehernya. Untungnya, Yvonne dengan cepat mengubah ekspresinya dan tersenyum lembut.
"Benar. Penelope adalah anak yang cerdas...."
"Itu...."
Duke mencoba menyembunyikan perasaannya dan mengubah topik.
"Kamu telah berada di kamarmu sepanjang hari, bukan? Katakan padaku jika kamu menginginkan sesuatu."
Dia berhenti sejenak dan melanjutkan.
"Apa yang kamu inginkan?"
Mungkin tak terduga, mata biru bengkak Yvonne terbuka lebar.
"Emm, sudah cukup, tidak apa-apa. Terima kasih atas perhatian Anda."
“Bukankah tidak nyaman karena kepala pelayan (Kepala pelayan disini itu yang cewek yah bukan Pennel) sedang cuti karena sakit sehingga tidak ada yang menjagamu? Sulit untuk keluar karena kamu juga sedang tidak enak badan.... Jangan merasa tertekan dan beri tahu aku. Atau beri tahu kepala pelayan (Baru yang ini Pennel). "
"Tidak! Aku punya Leah. Eh, Leah adalah pelayanku beberapa waktu lalu."
Yvonne menggelengkan kepalanya dan melambai.
"Pelayan itu..."
Wajah Duke menjadi gelap. Dia baru saja mendengarnya beberapa waktu yang lalu, wajar jika Yvonne tidak tahu.
"....Ketika saya mendengar dari kepala pelayan, pelayan itu sepertinya telah melarikan diri dari mansion di malam hari."
“Me-, Melarikan diri?!”
Seperti yang diharapkan, Yvonne terpana dengan berita yang tidak terduga itu.
"Ke, kenapa? Uh, kupikir... aneh sekali aku tidak bisa melihatnya sejak kemarin. Apa karena dia benci menjadi pelayanku?"
"Tidak mungkin. Itu bukan salahmu, jadi jangan merasa bersalah."
Suara kaget dengan cepat menjadi tenang. Duke memberikan penghiburan yang canggung.
"Aku akan mencari pelayan yang baik, dan aku akan segera menugaskan pembantu baru untukmu."
"Terima kasih...."
Kata Yvonne dengan wajah tanpa ekspresi.
"Tapi... kuharap Leah bahagia dengan Paul di sana."
"Aku yakin mereka akan cukup baik, hingga membuang uang pesangon mereka dan kabur dengan tergesa-gesa."
Itu adalah momen ketika Duke menjawab dengan suara yang lembut dan tersenyum. Perasaan tidak nyaman kembali muncul.
'Ngomong-ngomong... Apakah aku memberitahunya bahwa dia melarikan diri dengan seorang penjaga kandang?'
Duke berhenti sejenak untuk melihat kembali ke Yvonne. Dia masih menatap dirinya dengan mata yang jernih.
"Apa yang salah?"
Tidak ada yang namanya kepalsuan atau kepura-puraan di mata birunya.
'Itu mungkin sesuatu yang pernah dia dengar sebelumnya.'
Dia merasa sarafnya menajam, itu mungkin karena Derrick.
Duke mencoba untuk mengalihkan perhatiannya.
"Tidak, tidak apa-apa. Tehnya jadi dingin. Ayo, ayo kita minum...”
Saat dia bergegas menawarkan untuk segera meminum teh untuk mengurangi kecanggungan, tiba-tiba dia berhenti berbicara.
Di cangkir teh Yvonne,
Tidak ada yang tercermin.
。
。
。
(Wow, ahkirnya Duke sadar juga, aku kira dia sadar saat pertama kali melihat cangkir teh ternyata tidak 😑)
.
Haaii,, makasii udah mampir baca.
Jika ada yang tidak dimengerti, boleh TANYA JAWAB DI KOMENTAR yaa!!. mohon dimaafkan..
( ̄ε ̄ʃƪ)
Thank youu udah update lagi... Huhu aku seneng banget bac nya 🥺🥺
BalasHapusHehe, makasi kak. Aku lma gk up, karna di wp udh banyak yg slesai.
Hapus