.
.
.
Setelah melihat sosok kecil yang muncul entah dari mana, Vinter berhenti bernapas.
Dia buru-buru menarik ujung tongkatnya.
Kwaaang-!
Dan sihir serangan itu melewati Yvonne dengan jarak yang sedikit lagi akan mengenainya, dan sihir itu menghantam dinding dan menyebabkan suara dan getaran yang besar.
Namun, berkat sihir yang melapisi bangunan ini, dindingnya tidak berlubang.
"Ugh......!"
Sihir yang menyapu kantor itu dengan cepat membuat asap.
Dan di antara asap itu, ada seorang wanita dan seorang anak kecil yang mengenakan topeng singa terungkap.
"Sudah kubilang aku pasti akan menghancurkannya."
Yvonne tertawa terbahak-bahak. Vinter pun mengerutkan kening dan memasang ekspresi yang terlihat putus asa.
"Raon!"
Dia adalah seorang anak yang sangat berharga karena dia pintar.
Tapi mata Raon, terlihat dari celah topeng singa telah menghilang dengan awan kegelapan.
"Kapan kamu mendapatkan Raon......!"
"Awalnya, hari itu, saat kamu menjadikan Raon sebagai umpan, kamu seharusnya menjadi kekuatanku.... Tetapi, karena kamu mempunyai umpan, kamu pikir itu tidak akan terjadi, kan?"
Dia pun tersenyum sambil mengungkapkan kesombongannya.
Tidak heran lebih mudah mengendalikan otak penyihir muda daripada penyihir dewasa.
Menanam benih kemalangan kecil dalam waktu yang singkat sudah cukup.
"Oh, kalau dipikir-pikir, dia juga terlibat karena Penelope."
Namun, tidak ada gunanya sekarang karena semua rencana yang dia buat pada awalnya sudah berantakan.
Dia (Yvonne) pikir dia (Vinter) telah membuangnya, tapi ternyata dia (Yvonne) beruntung.
Dengan senyum yang kejam, Yvonne mengarahkan jarinya ke Vinter.
"Raon, ambil item yang disembunyikan tuanmu."
"Raon! Bangun!"
Vinter menggelengkan kepalanya, menatap putus asa ke topeng singa itu, dan buru-buru meneriakkan mantra secara samar.
"S para!"
"Sebaiknya Anda tidak melakukannya, Vinter Verdandi yang manis."
Tapi kata-kata itu menghentikannya sebelum dia bisa menyelesaikan mantranya kembali.
"Aku telah menggeledah kepala Raon, jadi aku sudah pergi ke rumah persembunyian tempat anak-anak dan Emily dibawa pergi."
"Bagaimana Anda....."
Vinter menatap Yvonne dengan mata yang gemetar.
Dalam waktu singkat, penderitaan yang tak terhitung jumlahnya telah berkecamuk.
Dia (Vinter) tidak pernah berpikir dia (Yvonne) akan menyentuh Raon.
Dia telah memeriksa Raon beberapa kali sejak dia kembali dari Soleil, tetapi tidak ada tanda-tanda pencucian otak.
"Cepat menyerah."
"........."
"Beri aku cermin dan aku tidak akan menyentuh anak-anak, Marquis. Aku juga tidak ingin menyakiti mereka."
Relik atau kehidupan seorang anak.
Mudah untuk menjawabnya.
Tongkat, yang mengepal ke arah Yvonne, perlahan turun.
Saat itu, Yvonne bergumam.
"Dach T-Mum."
Kemudian kabut hitam dan transparan muncul dari lantai.
"Ugh!"
Tanpa sempat membuat reaksi, Vinter telah terikat olehnya, dia pun jatuh, dan lututnya menghantam ke lantai dan membuat suara 'benturan'.
"Jangan bergerak. Aku khawatir akan sangat menyakitkan bila melihat anggota tubuhmu teramputasi."
Yvonne pun berbisik dengan nada suara yang menyegarkan, sambil menyenandungkan ancamannya dia duduk di sofa yang relatif bagus.
Raon dengan mudah menemukan pintu rahasia yang tersembunyi di dinding dan membukanya.
Pemilik ruangan itu telah ditahan, jadi tidak ada yang menghalangi anak itu untuk berjalan tanpa ragu-ragu.
Segera setelah itu, Raon keluar dari tembok dengan sekuntum bunga yang telah dicabut.
"Itu sangat buruk."
Yvonne, yang meraih ujung bunga itu dan melihatnya, memberikan apresiasi secara singkat.
Mawar ungu yang telah dipetik itu, akarnya masih ditutupi oleh tanah, seolah mencoba menyembunyikan potongan cerminnyang diterimanya dari Penelope.
Sambil berbaring telungkup di lantai, Vinter mengatupkan giginya saat dia melihat ke arah Yvonne
"Lagipula ini hanya bunga."
Yvonne mendecakkan lidahnya seolah itu tidak lagi lucu, dan dia merusak bunga itu tanpa ragu-ragu.
Bunga mawar dengan akarnya yang rusak pun layu dan dengan cepat menjatuhkan kelopaknya.
Yvonne melemparkannya ke depan Vinter seperti sampah.
Kemudian, dengan ibu jari dan telunjuk di mulut, dia bersiul keras.
Segera setelah itu, monster raksasa datang ke sini, dan memecahkan jendela.
"Kkirururuk-!"
"Raon, kau kendarailah monster itu ke rumah persembunyian."
Sambil menunjuk pada iblis bersayap itu, Yvonne memerintahkannya.
Vinter membuka lebar matanya.
"Janji, janjimu berbeda!"
"Janji? Hahaha, kamu berharap banyak dari Leila."
"Sial! Raon! Berhenti! Ughh!"
Dia tertipu.
Saat dia melihat ke arah Raon, yang sedang naik ke punggung monster itu, dia berteriak dengan putus asa.
Namun, dia tidak punya pilihan selain mengerang karena rasa sakit hebat yang menembus persendiannya.
"Raon, tolong........"
"Kkirururuk-!"
Monster yang membawa anak itu terbang melewati jendela tanpa menunda waktu sedikitpun.
Keputusasaan dan frustrasi perlahan menutupi wajahnya.
"Mengapa... kamu melakukan ini! Kamu telah mendapatkan potongan seperti yang kamu inginkan!"
Vinter berteriak dengan suara sedih dan wajah yang terdistorsi.
Dia duduk di sofa dan menyentuh cermin, dan setelah itu dia bangkit dari sofa.
"Cuma, ini agak lucu."
Dia berjongkok, sambil mengangkat dagu dia (Vinter) dengan jari-jarinya dan melakukan kontak mata.
"Karena aku ingin wajah ini dibalut dengan rasa bersalah."
"............Kamu gila."
"Mungkin."
Yvonne dengan mudah mengangguk pada kata-kata yang dilontarkan Vinter.
Dia sendirian yang selamat dalam perang saudara yang brutal.
Juga, dia menahan nafasnya cukup lama untuk mati.
Dan akhirnya kembali ke masa lalu sesaat sebelum akhirnya menyelesaikan balas dendamnya.
Bagaimana saya tidak menjadi gila?
"Sangat menyenangkan melihatmu membantai penyihir yang tersisa dengan tanganmu saat kamu tidak waras."
"............."
"Saya pikir akan sangat menyenangkan melihat wajah Anda menjadi gila, menyaksikan tanpa daya dunia yang Anda coba lindungi dengan hidup Anda akan segera berakhir."
"Kau akan menyesalinya."
Vinter memelototinya dengan ekspresi mengerikan dan meludah.
Itu adalah gambar aneh yang belum pernah terlihat di masa lalu.
Tiba-tiba, dia merasa bahwa dia bahkan tidak bisa mengetahui sesuatu.
Dia bertanya-tanya apakah semua ini benar-benar untuk balas dendam yang sama.
Atau kebencian terhadap manusia yang tidak lagi mencintainya.
"Perhatikan baik-baik bagaimana Penelope kesayanganmu sekarat di tanganku, Marquis sayang."
"........"
"Kalau begitu, selamat tinggal."
Ketika dia bangkit dia segera melepaskan dagunya.
"Fire Pisson."
Entah dari mana Vinter meneriakkan mantranya.
Whushhhh-
Di kelopak bunga yang telah layu dan tersebar di antara mereka, menyala-lah sebuah api kecil.
"Apa....."
Saat Yvonne menatapnya dengan tatapan kosong.
Bammm-!
Sebuah ledakan terjadi. Di saat yang sama, tubuh mungil Yvonne yang ingin bangkit terlempar.
Brakkk-
Bangunan itu runtuh dalam sekejap.
Tempat api itu menyala, telah menjadi abu dan begitu rusak hingga tidak dapat menegenali bentuk asli dari tempat itu.
Tapi meski terjadi ledakan besar itu, sekelilingnya masih sunyi. Seolah-olah tidak pernah ada ledakan.
Itu sangat hening, hanya terdengar suara kembang api.
Tapi tidak lama kemudian, puing-puing bangunan yang runtuh itu bergerak dan mengeluarkan suara yang berderak.
Quang-.
Sebagian puing-puing yang bergerak itu mulai beterbangan ke sisi lain.
"Hah, ugh......"
Merangkak melalui lubang dari puing-puing itu, keluarlah seorang wanita yang terlihat tulang kerangkanya, karena satu sisi wajahnya telah meleleh.
(Sella: Kalo Yvonne aja kayak gini, terus Vinter gimana, mati kah? Sumpah gak rela banget kalo dia mati sih :;((•﹏•๑)));: )
"Sialan, Vinter Verdandi--!"
Yvonne, yang keluar dengan terburu-buru, menjerit dan tergagap.
Tidak hanya kulit dan dagingnya saja yang terbakar, tetapi tulangnya juga ikut terbakar hingga hitam.
Itu adalah kerangka yang mengerikan yang manusia biasa tidak mungkin bisa bertahan hidup.
Memalingkan matanya dari tubuhnya yang berantakan, Yvonne mengedipkan matanya dan mengamati sekeliling.
Butuh waktu lama untuk menggunakan kembali kekuatan yang telah disimpannya, sampai-sampai sangat memalukan untuk memakan dua budak.
Tidak keren untuk langsung mencabik-cabik mereka sampai mati, tapi dia harus makan segera memakan kudapannya.
Tapi tidak ada tanda-tanda manusia yang terlihat, sampai akhirnya dia menyadari tanda kehadiran seseorang.
Wajahnya putih pucat. Itu adalah penyihir yang dipekerjakan oleh Duke.
"Hah! Kamu seekor rubah tua, kamu punya tikus yang melekat dengan baik."
Dia tidak mengharapkan adanya orang lain jadi dia dengan mudah melepaskan penunggang kuda itu.
Penyihir, yang tampaknya bersembunyi di luar gedung menunggunya, sambil gemetar dengan ketakutan.
Itu wajar.
Tidak hanya bangunan tempat dia masuk tiba-tiba runtuh, tetapi dia selamat dalam ledakan besar yang tidak terlihat oleh publik, tetapi dia masih hidup.
"Kemarilah, Penyihir."
Seorang wanita dengan kerangka yang mengerikan perlahan keluar dari gedung.
Setengah dari rambut merah mudanya yang indah telah terbakar oleh api.
"Hah, ugh!"
Penyihir itu menggelengkan kepalanya dan mundur.
Namun kenyataannya, dia bahkan tidak bisa mundur. Karena Yvonne telah mengaktifkan kekuatan pencucian otak untuk meregenerasi tubuhnya.
"Ya ampun, Tuhanku......."
Manusia selalu mencari Tuhan sebelum mati.
Yvonne menganggapnya lucu.
Tidak ada Tuhan di kekaisaran tempat naga sialan ini berada.
"Mulai sekarang, Akulah Tuhanmu."
Di mata pria yang telah berkeringat itu, dia melihat bibir merah tua itu membuat senyum yang tidak menyenangkan.
* * * * *
Sudah hampir tengah malam ketika dia tiba di Dukedom.
Untungnya, semua lampu telah dimatikan, seolah-olah gerbong kosong yang telah menariknya itu kembali tepat waktu.
Sesampainya dia tiba di gerbang, dia perlahan berjalan dan menuju pintu depan.
Dia baru saja melewati taman.
"Kamu terlambat."
Ada orang tak terduga di depannta.
"Siapa? Siapa....."
Karena malu, Yvonne berhenti dan bertanya dengan ketakutan.
Orang yang berdiri di tempat teduh di depan pintu berjalan perlahan keluar.
Wajahnya terungkap di bawah sinar bulan.
"Du, Duke?"
Yvonne terkejut dan memanggil Duke Eckart.
Tiba-tiba, dia mengangkat tangannya.
Merasa seperti sinyal untuk tidak mendekat, Yvonne memiringkan kepalanya dengan mata yang terbuka lebar.
Tapi itu hanya ilusi.
Seuseuseuseusut-.
Di taman, segera setelah Duke mengangkat tangannya, bayangan hitam perlahan mulai muncul dan mendekat.
Satu atau dua lampu mulai menyala.
Semua ksatria yang melingkari Yvonne mencabut pedangnya.
"Ini, ini......... apa yang terjadi?"
Yvonne, yang melihat sekeliling, kembali menatap Duke dengan wajah ketakutan dan bertanya.
Tidak hanya Duke tetapi juga Derrick dan Reynold berdiri di sampingnya, menatapnya dengan mata dingin.
(Sella : Ini adalah adegan terbaik 👍💯)
Matanya Yvonne sedikit gemetar.
。
。
。
Semoga semua orang tetap pada sehat yah ('ω'💪)
Cerota nya makin seru, makadih udah translate min ❤
BalasHapusHei kak....
BalasHapusMau ngucapin makasih udah translate novel ini untuk kami para reader. Baru selesai baca sampai sini setelah maraton 2 hari, maaf kalau gak ninggalin komen d tiap partnya ya. Soalnya selalu dibuat penasaran dengan part selanjutnya >.<
Tapi kak, ini masih tetep d lanjut kan? Tetap semangat ya kak buat terjemahinnya. Selalu setia menungguuu...
Makasih banyak ya Min..
BalasHapus